Nasional

Nusron Wahid Paksa Pegawai BNP2TKI Tak Bantah Suara Publik

600x400
Nusron Wahid menyatakan tenaga kerja Indonesia di luar negeri telah mengirim US$10,5 miliar, sejumlah US$9,5 miliar diantaranya merupakan kiriman dari TKI murni, bandingkan dengan pemasukan sektor investasi sebesar US$18 miliar yang mengharuskan pemerintah menelurkan berbagai kemudahan bagi dunia usaha. (Foto: Istimewa)

BEKASI, DM – Kepala BNP2TKI Nusron Wahid Memaksa para pegawai BNP2TKI agar mengubah cara pandang  agar sejalan dengan perannya sebagai pelayan publik. Tugas birokrasi adalah melayani kepentingan publik bukan sebaliknya.

Nusron menginstruksikan agar para pegawai BNP2TKI tidak meremehkan siapapun. Menurutnya, saat ini sudah eranya keterbukaan public, sebab siapapun bisa mengacau semisal dengan memanfaatkan media sosial seperti twitter, facebook atau Whatsapp.

“Kalau  stakeholder mengajukan keberatan  jangan dibantahnya, melainkan segera  cari pemecahan,” tegasnya di Bekasi, Rabu (2/3/2016).

Menurut Kepala BNP2TKI Nusron Wahid, perubahan cara pandang  itu penting sebab BNP2TKI  tahun ini mencanangkan  empat unsur kecantikannya. Dua unsur terkait aspek internal dan sisanya menyangkut aspek eksternal.

Dijelaskan juga, BNP2TKI akan meniadakan penempatan TKI penata laksana rumah tangga (TKI PLRT) ke luar negeri. Menggantinya dengan TKI yang memiliki keahlian dan dimana orang Indonesia mempunyai keunggulan seperti menjadi perawat, hospitality worker dan tukang las.

Berhubungan dengan remitansi, Nusron Wahid menyatakan tenaga kerja Indonesia di luar negeri telah mengirim US$10,5 miliar, sejumlah US$9,5 miliar diantaranya merupakan kiriman dari TKI murni, bandingkan dengan pemasukan sektor investasi sebesar US$18 miliar yang mengharuskan pemerintah menelurkan berbagai kemudahan bagi dunia usaha. Remitansi itu mengalir tanpa syarat apapun, ironisnya sekitar 65% diantaranya dipakai untuk keperluan konsumsi.

“Kecenderungan ini harus diubah  hingga sebagian besar remitansi itu dialokasikan untuk investasi, termasuk usaha kecil-menengah agar turut menggerakkan perekonomian,” paparnya.

Atas dasar itu, BNP2TKI mendidik keluarga TKI supaya bisa mengelola remitansi untuk kegiatan yang produktif. Kelak TKI yang bersangkutan tidak perlu lagi bekerja di luar negeri sebab dana hasil kelolaan keluarga mampu memenuhi kebutuhan.

Kecantikan berikutnya, BNP2TKI akan menerapkan keterbukaan informasi, misalnya yang terkait dengan bagian penempatan. Keterbukaan ini penting supaya jangan sampai TKI dieksploitir  Pelaksana Penempatan  Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS). Menurut Nusron Wahid, untuk memperlancar keterbukaan informasi itu, akan ditunjuk Employment  Services Officer (ESO) yang mengikuti proses pengurusan oleh PPTKIS dari hulu ke hilir .

“Jadi jika terjadi sesuatu, maka ESO sudah mengetahui letak dan pemecahan persoalannya,” katanya lagi.

Mediasi-advokasi akan menjadi aspek lain yang  cantik. Mereka yang bekerja menjadi ESO dan pada bidang mediator – advokasi layak menjadi pemimpin pada BNP2TKI karena terbiasa melayani dan kemampuan memecahkan masalah (problem solver), tegasnya.

Berlomba Membuat Program

Selain cara pandang  yang berorientasi pelayanan, untuk merealisasikan empat hal di atas  juga diperlukan program yang konkret dan dapat diterapkan. Berlomba-lombalah program sebab dewasa ini,  anggaran mengikuti program. Ada program ada anggaran, ujar Kepala BNP2TKI yang disambut tepuk tangan peserta Rakernis yang berasal dari seluruh Indonesia.

Dalam pembuatan program, seluruh bagian terlibat dan jangan ada pengkotak-kotakan.  Masing-masing bagian memberi kontribusi agar menjadi satu kesatuan yang utuh serta tidak tumpang tindih, ujar Nusron Wahid sambil memperagakan bentuk kerjasama itu.

Dia mencontohkan, satu bagian mencari dan mendapati peluang pasar tenaga kerja. Kemudian informasi disebarkan  hingga bagian lain  mengupayakan CTKI  kompetensi yang sesuai dengan pasar, melalui kerjasama dengan mitra strategis seperti STIKES, sekolah pariwisata atau sekolah tehnik. Adapun bagian perlindungan memberi kontribusi dalam bentuk mitigasi dan lainnya.

Sebelumnya,  Sestama BNP2TKI Hermono menyatakan para Deputi telah diminta membuat program  seperti showcase (etalase) yang mempunyai daya ungkit atas BNP2TKI. Bukan hanya sekedar program, tetapi juga ada pengendalian. Program tersebut  dijabarkan  secara terinci dan terukur.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top